Kritik, Saran, dan Komentar              

Selasa, 25 Desember 2012

Pengertian dan Tingkatan Aspek Kognitif, Afektif dan Psikomotorik dalam Pendidikan



Pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau factor rasa atau emosi maupun ketrampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Sejalan dengan pengertian kognitif afektif psikomotorik tersebut, kita juga mengenal istilah cipta, rasa, dan karsa yang dicetuskan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Konsep ini juga mengakomodasi berbagai potensi anak didik. Baik menyangkut aspek cipta yang berhubungan dengan otak dan kecerdasan, aspek rasa yang berkaitan dengan emosi dan perasaan, serta karsa atau keinginan maupun ketrampilan yang lebih bersifat fisik.
Konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik dicetuskan oleh Benyamin Bloom pada tahun 1956. Karena itulah konsep tersebut juga dikenal dengan istilah Taksonomi Bloom.
Pengertian kognitif afektif psikomotorik dalam Taksonomi Bloom ini membagi adanya 3 domain, ranah atau kawasan potensi manusia belajar. Dalam setiap ranah ini juga terbagi lagi ke dalam beberapa tingkatan yang lebih detail. Ketiga ranah itu meliputi :
1. Kognitif (proses berfikir )
Kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, menegtahui dan memecahkan masalah.
Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif terdiri atas enam bagian :
a. Pengetahuan (knowledge)
mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.
b. Pemahaman (comprehension)
Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.
c. Penerapan (application)
Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman.
d. Analisis (analysis)
Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.
e. Sintesa (evaluation)
Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerluakn tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.
f. Evaluasi (evaluation)
Mengacu kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi.
Urutan-urutan seperti yang dikemukakan di atas, seperti ini sebenarnya masih mempunyai bagian-bagian lebih spesifik lagi. Di mana di antara bagian tersebut akan lebih memahami akan ranah-ranah psikologi sampai di mana kemampuan pengajaran mencapai Introduktion Instruksional. Seperti evaluasi terdiri dari dua kategori yaitu “Penilaian dengan menggunakan kriteria internal” dan “Penilaian dengan menggunakan kriteria eksternal”. Keterangan yang sederhana dari aspek kognitif seperti dari urutan-urutan di atas, bahwa sistematika tersebut adalah berurutan yakni satu bagian harus lebih dikuasai baru melangkah pada bagian lain.
Aspek kognitif lebih didominasi oleh alur-alur teoritis dan abstrak. Pengetahuan akan menjadi standar umum untuk melihat kemampuan kognitif seseorang dalam proses pengajaran.

2. Afektif (Nilai atau Sikap)
Afektif atau intelektual adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan operasiasi siswa.
Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori :
a. Penerimaan (recerving)
Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.
b. Pemberian respon atau partisipasi (responding)
Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik.
c. Penilaian atau penentuan sikap (valung)
Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”.
d. Organisasi (organization)
Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.
e. Karakterisasi / pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex)
Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa.
Variable-variabel di atas juga telah memberikan kejelasan bagi proses pemahaman taksonomi afektif ini, berlangsungnya proses afektif adalah akibat perjalanan kognitif terlebih dahulu seperti pernah diungkapkan bahwa:
“Semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengatahuan yang kita miliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok atau orang hubungan kita dengan mereka pasti di dasarkan pada informasi yanag kita peroleh tentang sifat-sifat mereka.”
Bidang afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat menyimpan menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan kemampuan organisasi afektif itu sendiri. Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikologi pengajaran adalah sangat urgen untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya.

3. Psikomotorik (Keterampilan)
Psikomotorik adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik.
Menurut Davc (1970) klasifikasi tujuan domain psikomotor terbagi lima kategori yaitu :
a. Peniruan
terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.
b. Manipulasi
Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.
c. Ketetapan
memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.
d. Artikulasi
Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda.
e. Pengalamiahan
Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.
Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa domain psikomotorik dalam taksonomi instruksional pengajaran adalah lebih mengorientasikan pada proses tingkah laku atau pelaksanaan, di mana sebagai fungsinya adalah untuk meneruskan nilai yang terdapat lewat kognitif dan diinternalisasikan lewat afektif sehingga mengorganisasi dan diaplikasikan dalam bentuk nyata oleh domain psikomotorik ini.
Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Sasaran kegiatan evaluasi hasil belajar adalah:
  1. Apakah peserta didik sudah dapat memahami semua bahan atau materi pelajaran yang telah diberikan pada mereka?
  2. Apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya?
  3. Apakah materi pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan secara kongkret dalam praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari?
Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.




 Sumber : http://syahsmkn2tb.wordpress.com






Rabu, 19 Desember 2012

Contoh Pidato Perpisahan Siswa Kelas VI


Berikut ini merupakan contoh pidato perpisahan siswa kelas VI semoga bermanfaat : 

Assalamualaikum    wr.  Wb.
Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang terhormat Ibu Kepala Sekolah SD Negeri KAUMAN, Yang terhormat Bapak Ketua Komite SD Negeri KAUMAN, Yang terhormat Bapak  Ibu Guru SD Negeri KAUMAN , serta teman-teman yang saya cintai,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kita ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berkumpul bersama di tempat ini dalam keadaan sehat wal’afiat.

Hadirin yang saya hormati,
Izinkanlah saya mewakili teman-teman menyampaikan kesan selama enam tahun kami bersekolah disini. Selama berada disini, Bapak dan Ibu Guru telah membimbing kami dengan penuh kesabaran.  Kami tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan budi pekerti. Mudah-mudahan semua itu dapat menjadi bekal kami dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang.

Bapak dan Ibu Guru yang saya hormati,
Pada kesempatan ini pula kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga bapak ibu guru selama ini.
Kami menyadari bahwa selama ini telah banyak melakukan kesalahan. Untuk itu, kami mohon maaf sebesar-besarnya.

Adik-adik yang saya cintai,
Saya berpesan, belajarlah dengan rajin. Patuhilah nasihat Bapak dan Ibu Guru.
Semua itu adalah untuk kebaikan kalian sendiri.

Hadirin sekalian,
Demikianlah pidato perpisahan dari kami. Kami mohon pamit dan doa restu.
Mudah-mudahan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi  kami dapat menjadi lebih baik.
Atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.

Wassalamualaikum  wr.  Wb.

Evaluasi Diri Sekolah ( EDS )

Evaluasi Diri Sekolah (EDS)  di tiap sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah  (TPS) yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, Komite Sekolah, orang tua peserta didik, dan pengawas. Proses EDS dapat mengikutsertakan tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat. Instrumen EDS ini khusus dirancang  untuk digunakan oleh TPS dalam melakukan penilaian  kinerja sekolah terhadap 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang hasilnya menjadi  masukan dan dasar penyusunan  Rencana  Pengembangan Sekolah (RPS) dalam upaya peningkatan kinerja sekolah.  EDS sebaiknya dilaksanakan setelah anggota TPS mendapat pelatihan.  
 Informasi ringkas tentang EDS dapat dilihat di bawah ini:
1.  Apakah yang dimaksud dengan Evaluasi Diri Sekolah?
Evaluasi diri sekolah adalah proses yang mengikutsertakan semua pemangku kepentingan  untuk membantu sekolah dalam menilai mutu penyelenggaraan pendidikan berdasarkan indikator-indikator kunci yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP).
  • Melalui EDS kekuatan dan kemajuan sekolah dapat diketahui dan aspek-aspek yang memerlukan peningkatan dapat diidentifikasi.
  • Proses evaluasi diri sekolah merupakan siklus, yang dimulai dengan pembentukan TPS, pelatihan penggunaan Instrumen, pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • TPS mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk menilai kinerja sekolah berdasarkan indikator-indikator yang dirumuskan dalam Instrumen. Kegiatan ini melibatkan semua  pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah  untuk memperoleh informasi dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan sekolah.  
  • EDS juga akan melihat  visi dan misi sekolah. Apabila sekolah belum memiliki visi dan misi, maka  diharapkan kegiatan ini akan memacu sekolah membuat atau memperbaiki visi dan misi dalam mencapai  kinerja sekolah yang diinginkan.
  • Hasil EDS digunakan sebagai bahan untuk menetapkan aspek  yang menjadi prioritas dalam rencana peningkatan dan pengembangan sekolah pada RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • Laporan hasil EDS digunakan oleh Pengawas untuk kepentingan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) sebagai bahan penyusunan perencanaan pendidikan pada tingkat kabupaten/kota.
2.  Apa yang diperoleh sekolah dari hasil EDS? 
  • Seberapa baik kinerja sekolah? Dengan EDS akan diperoleh informasi  mengenai pengelolaan sekolah yang telah memenuhi SNP untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • Bagaimana mengetahui kinerja sekolah sesungguhnya? Dengan EDS akan diperoleh informasi tentang kinerja sekolah yang sebenarnya dan informasi tersebut diverifikasi dengan bukti-bukti fisik yang sesuai.
  • Bagaimana memperbaiki kinerja sekolah? Sekolah menggunakan informasi yang dikumpulkan dalam EDS untuk menetapkan apa yang menjadi prioritas bagi peningkatan sekolah dan digunakan untuk mempersiapkan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

3. Keuntungan apa yang akan diperoleh sekolah dari EDS? 
  • Sekolah mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya sebagai dasar penyusunan rencana pengembangan lebih lanjut.
  • Sekolah mampu mengenal peluang untuk memperbaiki mutu pendidikan,  menilai keberhasilan  upaya peningkatan, dan melakukan penyesuaian program-program yang ada.
  • Sekolah mampu mengetahui tantangan yang dihadapi dan mendiagnosis jenis kebutuhan yang diperlukan untuk perbaikan.
  • Sekolah dapat mengetahui tingkat pencapaian kinerja berdasarkan 8 SNP.
  • Sekolah dapat menyediakan laporan resmi kepada para pemangku kepentingan tentang kemajuan dan hasil yang dicapai.

4. Seberapa sering sekolah melakukan EDS? 
  • Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali.
5. Bagaimana bentuk Instrumen EDS?
 Instrumen EDS terdiri dari 8 (delapan) bagian sesuai  dengan 8 SNP. Setiap bagian terdiri atas :
  • Serangkaian pertanyaan terkait dengan SNP sebagai dasar bagi sekolah dalam memperoleh informasi kinerjanya  yang bersifat kualitatif.
  • Setiap standar bisa terdiri dari beberapa aspek  yang memberikan gambaran lebih menyeluruh .
  • Setiap aspek dari standar terdiri dari 4 tingkat pencapaian : tingkat pencapaian 1 berarti kurang, 2 berarti sedang, 3 berarti baik, dan 4 berarti amat baik.
  • Tiap tingkatan pencapaian mempunyai beberapa indikator.
  • Pada bagian akhir dari aspek setiap standar, terdapat halaman rekapitulasi untuk menuliskan hasil penilaian pencapaian yang diperoleh. Halaman rekapitulasi ini terdiri dari bukti fisik yang menguatkan pengakuan atas tingkat pencapaian, deskripsi umum temuan yang diperoleh untuk menilai aspek tersebut, dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah.
  • Sejumlah pertanyaan terkait dengan 8 SNP yang paling erat hubungannya dengan mutu pembelajaran dan aspek-aspek yang perlu dikembangkan  bagi keperluan penyusunan rencana peningkatan sekolah.
  • Tingkat pencapaian pada tiap Standar dalam Instrumen ini dapat digunakan sekolah untuk menilai kinerjanya pada standar tertentu.

6.  Bagaimana sekolah menggunakan tingkat pencapaian? 
  • Anggota TPS secara bersama mencermati Instrumen EDS pada setiap aspek dari setiap standar. Sebaiknya perlu disiapkan peraturan menteri, indikator atau peraturan pemerintah yang berkaitan dengan SNP sebagai rujukan.
  • Berdasarkan kondisi nyata sekolah, anggota TPS menilai apakah sekolah mereka termasuk dalam tingkatan 1, 2, 3 atau 4 dalam pencapaian 8 SNP ini. Misalnya pada Standar Isi ada aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum serta aspek penyediaan kebutuhan untuk pengembangan diri. Bisa saja aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum berada di tingkat 4, tapi aspek kebutuhan untuk pengembangan diri ada di tingkat 2.  Ini tidak menjadi masalah.  Tingkat pencapaian  pada setiap standar  menggambarkan keadaan seperti apa kondisi kinerja sekolah pada saat dilakukan penialian  terkait dengan pertanyaan tertentu.
  • Setelah menentukan tingkat pencapaiannya, sekolah perlu menyertakan bukti fisik atas pengakuannya. Contoh bukti fisik atas keikutsertaan masyarakat dalam kehidupan sekolah berupa rapat komite sekolah, notulen, daftar hadir, dan undangan. 
  • Hasil semua penilaian dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah untuk aspek tertentu pada setiap standar ditulis pada lembar laporan penilaian atau rekapitulasi dengan menyertakan bukti fisik yang sesuai (lihat keterangan pada nomor 5 di atas).
  • Sekolah menetapkan tingkat pencapaian kinerja dan bukan hanya sekedar memberikan tanda cek (contreng) pada setiap butir dalam Instrumen EDS.
  • Tingkat pencapaian kinerja sekolah bisa berbeda dalam aspek yang berbeda pula. Hal ini penting sebab sekolah harus memberikan laporan kinerja apa adanya. Dalam pelaksanaan EDS yang dilakukan setiap tahun, sekolah mempunyai dasar nyata  aspek dan standar yang memerlukan perbaikan secara terus-menerus.
  • Dengan menggunakan Instrumen EDS ini,  sekolah dapat mengukur dampak kinerjanya terhadap pembelajaran peserta didik. Sekolah juga dapat memeriksa hasil dan tindak lanjutnya terhadap perbaikan layanan pembelajaran yang diberikan  dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik.

7Jenis bukti apa yang dapat ditunjukkan? 
  • Bukti fisik yang menggambarkan tingkat pencapaian harus sesuai dengan aspek atau standar yang dinilai. Untuk itu perlu dimanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti fisik misalnya kajian catatan, hasil observasi, dan hasil wawancara/konsultasi dengan pemangku kepentingan seperti komite sekolah, orang tua, guru-guru, siswa, dan unsur lain yang terkait.
  • Perlu diingat bahwa informasi kualitatif yang menggambarkan kenyataan dapat berasal dari informasi kuantitatif. Sebagai contoh, Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) tidak sekedar merupakan catatan mengenai bagaimana pengajaran dilaksanakan. Keberadaan dokumen kurikulum bukan satu-satunya bukti bahwa kurikulum telah dilaksanakan.
  • Berbagai jenis bukti fisik dapat digunakan sekolah sebagai bukti tingkat pencapaian tertentu. Selain itu, sekolah perlu juga menunjukkan sumber bukti fisik lainnya yang sesuai.

8. Bagaimana proses EDS membantu penyusunan rencana pengembangan sekolah? 
  • TPS menganalisis informasi yang dikumpulkan, menggunakannya untuk mengidentifikasi dan menetapkan prioritas yang selanjutnya menjadi dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • Berdasarkan hasil EDS, sekolah mengembangkan RPS dengan prioritas peningkatan mutu kinerja sekolah yang dirumuskan secara jelas, dapat diobservasi dan diukur.  Dengan demikian, RPS menjadi dokumen kinerja sekolah yang meliputi aspek implementasi, skala prioritas, batas waktu, dan ukuran keberhasilannya.
  • Proses EDS berkaitan dengan aspek perubahan dan peningkatan. Upaya perubahan dan peningkatan tersebut hanya bermanfaat apabila diwujudkan dalam perencanaan bagi peningkatan mutu pendidikan dan hasil belajar  peserta didik. Diharapkan dengan adanya ragam data dan informasi yang diperoleh dari hasil EDS, sekolah bukan saja dapat merumuskan perencanaan pengembangan dengan tepat, akan tetapi penilaian kemajuan di masa depan juga akan lebih mudah dilakukan dengan tersedianya data yang dapat dipercaya. Hal tersebut dengan sendirinya memudahkan sekolah untuk menunjukkan hasil-hasil upaya peningkatan mereka setiap saat.
9. Laporan apa yang perlu disiapkan? 
  • Sekolah menyusun laporan hasil EDS dengan menggunakan format yang terpisah, yang menyajikan tingkat pencapaian serta bukti-bukti yang digunakannya. Hasil EDS digunakan untuk dasar penyusunan RPS sekolah, namun dilaporkan juga  ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kandepag untuk dianalisis lanjut dengan memanfaatkan EMIS (Educational Management Information System/Sistem Informasi Manajemen Pendidikan) bagi keperluan perencanaan dan berbagai kegiatan peningkatan mutu lainnya.
  • Laporan sekolah yang mengungkapkan berbagai temuan dapat digunakan untuk melakukan validasi internal (menilai dan mencocokkan) oleh pengawas sekolah, dan validasi external dengan menggunakan beberapa sekolah oleh Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) pada tingkat kecamatan dengan bantuan staf penjaminan mutu dari LPMP.
  • Hasil EDS merupakan bagian yang penting dalam kegiatan monitoring kinerja sekolah oleh pemerintah daerah dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.
Sumber: http://lpmpjateng.go.id

Kamis, 22 November 2012

Download Kisi-kisi UN SD 2012 2013 Terbaru

Banyak pihak yang menantikan keluarnya kisi-kisi untuk UN terbaru UN 2012 2013. Setelah dinantikan akhirnya kisi-kisi telah dikeluarkan yang dishare pada situs BSNP. Untuk yang mau mendownload bisa membuka halaman ini.

Minggu, 19 Agustus 2012

Dana BOS untuk Gaji Guru Honorer Tetap 20 Persen

 
JAKARTA – Pengucuran dana bantuan operasional sekolah (BOS) perlu pengawalan ketat karena rentan penyimpangan dalam pemanfaatannya. Diantara peluang penyimpangan terbesar adalah, penggunaan dana BOS untuk gaji guru honorer melebihi ambang batas yang sudah ditetapkan.

Dalam rangkaian safari Ramadan Kemendikbud banyak terungkap jika masih saja ada pihak sekolah yang meminta ambang batas penggunaan dana BOS untuk gaji guru honorer diubah. Selama ini, pemerintah menoleransi penggunaan dana BOS untuk gaji guru honorer hanya 20 persen saja.

’’Ketentuan ini sudah baku. Dan belum mengalami perubahan,’’ terang Plt Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dirjen Dikdas) Suyanto ketika dihibungi kemarin. Mantan rektor UNY itu mengatakan, desakan dari pihak sekolah supaya batas toleransi penggunaan dana BOS untuk gaji guru honorer tadi dirubah sulit sekali untuk dituruti.

Suyanto menjelaskan jika kuota 20 persen dana BOS untuk gaji guru honorer ini sangat mengikat di SD dan SMP negeri. Dia mengatakan, kuota 20 persen tadi sudah cukup bijaksana. Menurutnya jika dana BOS didominasi untuk gaji guru honorer, bisa mengganggu pos biaya operasional yang lainnya. Seperti pengadaan barang habis pakai, langganan internet, hingga pembelian buku-buku perpustakaan.

Menurut Suyanto, banyak sekolah yang akhirnya kelimpungan dalam menggaji guru honorer merupakan dampak dari kebiasaan mereka gampang merekrut guru baru. ’’Kita perlu ketat, sehingga tidak asal-asalan merekrut guru baru,’’ ujar Suyanto.

Analisa dari Kemendikbud saat ini menyebutkan bahwa jumlah guru honorer yang ada di satuan pendidikan sudah banyak yang overload. Kondisi ini cukup menghawatirkan ketika perhatian dari pemerintah daerah setempat minim. Misalnya pemda setempat tidak menganggarkan uang untuk gaji guru honorer.

Sebagai solusi sementara, Suyanto meminta kepada SD dan SMP negeri yang kesulitan menggaji guru honorer mereka untuk terus mendekati kepala daerah. Menurut Suyanto, pendidikan dasar ini adalah kewajiban pemkab atau pemkot setempat juga.

Dia menjelaskan, pemkab dan pemkot tidak boleh meninggalkan begitu saja pendidikan SD dan SMP. Terutama setelah akhir-akhir ini perhatian pemerintah pusat kepada SD dan SMP lumayan meningkat.

Di saat Kemendikbud menjalankan aturan tegas terhadap SD dan SMP negeri, mereka ternyata memberikan sedikit kelenturan penggunaan dana BOS di sekolah swasta.

’’Aturan penggunaan dana BOS untuk gaji guru honorer di sekolah swasta tidak seketat di sekolah negeri,’’ katanya. Suyanto mengatakan jika di sekolah swasta dana BOS untuk menggaji guru honorer boleh lebih dari 20 persen. Tetapi tidak boleh melebihi separuh dana BOS yang diterima masing-masing satuan pendidikan. (wan)
 
Sumber JPNN.com 

Presiden Berkomitmen Tingkatkan Anggaran Pendidikan





SBY

Jakarta -- Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. "Anggaran pendidikan akan terus ditingkatkan agar reformasi terwujud," kata Presiden ketika menyampaikan Pidato Kenegaraan pada HUT ke-67 Proklamasi Kemerdekaan RI di depan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (16/8).
Peningkatan anggaran juga memungkinkan terjadinya perluasan akses dan peningkatan kualitas di seluruh jenjang pendidikan. Saat ini Indonesia telah menyelesaikan Program Wajib Belajar 9 Tahun. Program ini terus  diupayakan secara bertahap ke dalam program Pendidikan Menengah Universal sebagai rintisan Program Wajib Belajar 12 Tahun. "Kita ingin anak-anak bangsa di seluruh penjuru tanah air dapat mengenyam pendidikan dasar dan menengah secara lebih merata dan berkualitas," ujar Presiden.
Di samping perluasan akses ke jenjang pendidikan dasar dan menengah, Presiden mengatakan bahwa akses ke jenjang pendidikan tinggi juga terus diperluas. Pemerintah akan menyediakan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dan Beasiswa Bidikmisi bagi pelajar berprestasi dari keluarga tak mampu. Selain itu, pemerintah juga akan membangun Akademi Komunitas secara bertahap di setiap kabupaten dan kota.
Lebih lanjut Presiden menyatakan bahwa cita-cita mulia mewujudkan Program Pendidikan Menengah 12 Tahun, harus dijalankan dengan memperhatikan kemampuan fiskal pemerintah pusat dan daerah. "Pemerintah Daerah Provinsi, perlu mengambil peran lebih besar dalam mendukung pembiayaan program ini," kata Presiden.
Pemerintah juga berkomitmen memerhatikan nasib para tenaga pendidik. Menurut Presiden, keberhasilan program pendidikan, baik pendidikan dasar maupun menengah, sangat ditentukan oleh ketersediaan guru dalam jumlah, distribusi, dan kompetensi yang sesuai. Sejalan dengan upaya meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru, pemerintah menjalankan kebijakan yang bertujuan meningkatkan kualitas guru. "Dengan cara itulah, terdapat korelasi positif antara peningkatan kesejahteraan dengan peningkatan kinerjanya," ujar Presiden.
Presiden mengatakan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Presiden mengajak seluruh Bangsa Indonesia agar tetap optimis, dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, anak-anak bangsa siap menyambut 'Indonesia Emas'. (PIH)

Napak Tilas Proklamasi sebagai Bagian dari Pendidikan Karakter




Jakarta – Satu hari menjelang peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, dilakukan Napak Tilas Proklamasi yang dimulai di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta. Pelepasan Napak Tilas Proklamasi diawali dengan orasi perjuangan tentang peranan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, dilanjutkan sambutan Direktur Pelestarian Cagar Alam dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Surya Helmi.
Maksud dan tujuan diadakan kegiatan ini, sebagai upaya penyebarluasan informasi museum dan sejarah kepada masyarakat, agar masyarakat lebih memahami dan menyadari fungsi dan peranan gedung bersejarah perjuangan bangsa. Tumbuhnya kesadaran menghargai dan meneladani tokoh-tokoh bangsa yang sangat besar jasanya bagi bangsa dan negara.
Hal ini sekaligus juga menjadi pendidikan karakter bagi generasi muda, sehingga tumbuh pula jiwa semangat nasionalisme dan patriotisme. Selain itu juga untuk memfasilitasi partisipasi masyarakat luas dalam suatu kegiatan yang diselenggarakan museum maupun masyarakat itu sendiri, dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya.
Peserta Napak Tilas Proklamasi berjumlah kurang lebih 1000 orang yang terdiri dari tokoh-tokoh angkatan’45, Wirawati Catur Panca, siswa, mahasiswa, sahabat museum, pramuka, Anjungan Taman Mini Indonesia Indah, komunitas sejarah, sepeda onthel, konvoi motor gede, dan instansi terkait lainnya, dengan berjalan kaki diiringi lagu-lagu perjuangan, drum band, dan kirab bendera. Napak Tilas Proklamasi akan berakhir di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, di mana tempat Naskah Proklamasi dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. (***)


Minggu, 05 Agustus 2012

Puisi Karya Kalian: kesedihanku




Nama*:Anita Frisila
Sekolah:MTsN 01 LOSARI
Kelas:VIII
Email*:anitafrisylla@yahoo.co.id
Tema Puisi*:Curhatanku
Judul Puisi*:kesedihanku
Isi Puisi*:Mendung selalu datang setiap hari..
ia begitu enggan tuk pergi..
melihatku tiada henti..
seakan ingin temani diri ini..

jika ia dapat berkata..
mungkin ia ingin aku berbagi cerita..
cerita yang penuh dengan luka..
namun,apalah daya ia tak mampu bicara..

biarkan ku simpan sendiri..
ku paksakan walau berat langkah kaki..
ku kan terus berjalan tanpa henti..
sampai aku menemukan makna diri..



Powered by EmailMeForm& SD Negeri Kauman



Jumat, 11 Mei 2012

Puisi Karya Kalian: jatuh cinta

Nama*:arum ayu lestari
Sekolah:SDN KAUMAN
Kelas:6
Email*:april.pelope@yahoo.com
Tema Puisi*:Cinta
Judul Puisi*:jatuh cinta
Isi Puisi*:Aku juga ingin jatuh cinta..
seperti yang lainnya..
kini saatnya untuk jatuh cinta..
karna dia nyatakan cinta..
namun bimbang kini aku rasa..
akankah dia trus setia..
atau hanya untuk sementara..
meat aku kecewa..



Powered by EmailMeForm

Sabtu, 05 Mei 2012

UN SD/MI di Jepara Diikuti 20.366 Siswa

image 


















JEPARA, suaramerdeka.com - Ujian Nasional (UN) SD/MI tahun 2011/2012 akan diikuti 20.366 siswa. Mereka berasal berasal dari 755 SD,MI dan SDLB.
Pelaksanaan ujian selama tiga hari mulai Senin (7/5) lusa dengan tiga mata pelajaran (mapel) bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.
Ketua I UN SD/MI Rayon (Kabupaten) Jepara Agus Tri Harjono mengatakan, naskah UN untuk 15 Sub Rayon (kecamatan) di Jepara daratan, akan didistribusikan Sabtu (5/5) besok.
Pengambilan naskah oleh SD/MI, dilaksanakan mulai Senin pagi, sesuai jarak skeolah dengan kantor UPT Disdikpora tempat penyimpanan naskah. Sedang naskah untuk Kecamatan Karimunjawa, dikirim lebih awal, Jumat sore (4/5)ini .
''Naskah untuk Karimunjawa dikirim masih utuh terbungkus karung. Kami sudah minta setiba di karimunjawa, segera dicek. Jika ada kekurangan segera melapor, kami masih ada waktu untuk megirimkan kekurangannya besok (Sabtu-5/4),'' ujar Agus Tri Harjono, saat mengantarkan pengiriman naskah UN Karimunjawa dengan kapal Express Bahari 9 di Dermaga Pantai Kartini Jepara.
Pengiriman naskah dikawal polisi. Pejabat yang ikut berangkat bersama naskah, Kepala UPT Disdikpora Karimunjawa Mujiono, bersama tiga pengawas yaitu Sutardi, Sutikno, dan Supriono, serta Kepala SDN 5 Kemujan Bambang SPd.
Agus menambahkan, pengedropan naskah UN dari percetakan di Semarang, waktunya mundur dari yang dijadwalkan. Pegiriman naskah untuk 15 kecamatan yang dijadwalkan tiba sore, baru akan diberangkatkan dari Semarang malam.
(Sukardi / CN34 / JBSM )

Kelulusan UN SD Ditentukan oleh Sekolah

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN - Kelulusan siswa Sekolah Dasar yang mengikuti Ujian Nasional Berstandar Nasional tahun ajaran 2010/2011 sepenuhnya ditentukan oleh pihak sekolah melalui rapat dewan guru di sekolah masing-masing. "Berbeda dengan UN tingkat SMA sederajat dan SMP sederajat yang kelulusannya menerapkan 40:60, yakni 40 persen ditentukan berdasarkan ujian sekolah dan 60 persen dari hasil UN," kata Ketua Ujian Nasional Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Ilyas Sitorus, di Medan, Senin (9/5).

Namun untuk siswa SD, kata dia, wewenang kelulusan sepenuhnya diberikan kepada pihak sekolah. Namun tentunya tetap berpegang kepada ketentuan yang telah ditetapkan oleh pusat dalam hal penilaian kelulusan untuk siswa SD. "Salah satu syarat yang harus dipenuhi misalnya siswa harus benar-benar menyelesaikan pelajarannya dari kelas 1-6 atau 12 semester dan memang lulus dalam ujian nasional sesuai nilai yang telah ditetapkan," katanya.

Tahun Ujian Nasional tingkat Sekolah Dasar sederajat di Sumatera Utara akan diikuti sebanyak 279.710 siswa yang digelar selama dua hari yakni 10-12 Mei 2011. Dari 279.710 tersebut, sebanyak 266.853 orang dari SD, 13.034 MI dan 104 dari SD Luar Biasa. Jika dilihat dari jumlah peserta, maka Medan merupakan peserta paling banyak yakni sebanyak 42.120 siswa dan Deli Serdang 20.100 siswa.

Sementara tempat ujian yang dipakai untuk UN SD tersebut sebanyak 18.449 ruangan dari 8.913 sekolah yang menyelenggarakan UN tingkat SD sederajat tersebut. Berbeda dengan ujian SMA dan SMP yang menggunakan lima tipe soal ujian, dalam UN tingkat SD ini hanya menggunakan dua tipe yakni tipe pertama untuk ujian utama dan tipe kedua untuk ujian susulan.

"Bagi yang ikut ujian susulan harus dapat membuktikan ketidakhadirannya dalam ujian utama tersebut dengan alasan yang dapat diterima. Misalnya kalau sakit harus ada surat keterangan sakit dari dokter," katanya.

Dia mengatakan, mata pelajaran yang diujikan pada UN tingkat SD, untuk hari pertama adalah Bahasa Indonesia, hari kedua Matematika serta hari terakhir pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Muatan soal untuk SD, sebanyak 75 persen diracik dari provinsi dan 25 persen dari pusat. Jadwal ujian UN SD akan dilaksanakan pada 10-12 Mei 2011, untuk ujian susulan 18-20 Mei 2011, pemindaian 11-31 Mei 2011, dan kelulusan 20 Juni.

"Untuk pemindaian lembar jawaban ujian SD dilakukan di setiap kabupaten/kota masing-masing. Kami juga telah melaksanakan kegiatan pelatihan scanning lembar jawaban ujian nasional (LJUN) tingkat SD sederajat bagi petugas di kabupaten/kota agar. Ini dilakukan agar petugas lebih memahami cara kerja dalam pemindaian tersebut," katanya.


Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
Repro: http://www.republika.co.id (Senin, 09 Mei 2011 16:14 WIB)

Dikdas : Menuju Data yang Komprehensif


Ir. Drs. Nono Adya, MM.,MT Arch., Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional;yang menguasai data dan informasi, akan menguasai dunia.
Yogyakarta (Dikdas): Workshop Sosialisasi Sistem Pendataan Pendidikan Dasar yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional merupakan langkah maju untuk menerapkan sebuah sistem pendataan yang bisa menghasilkan data pendidikan yang komprehensif.

Hal itu tergambar dalam paparan Ir. Drs. Nono Adya, MM.,MT Arch., Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional, ketika menyampaikan paparannya tentang Kebijakan Sistem Pendataan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, di Aula Hotel Saphir, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis malam kemarin (21/07).


Dalam kesempatan itu, Nono Adya menyampaikan tentang bagaimana memperoleh data individual, baik untuk siswa, guru dan sekolah.

“Sekarang ini, kebijakannya adalah bagaimana kita melakukan pendataan individual siswa, individual guru dan individual sekolah. Jadi nanti ketika seorang siswa sudah memegang kartu, maka kartu itu akan berguna seumur hidup,” tegas Nono Adya.

Butuh berapa lama proses pendataan tersebut? Menjawab hal ini, Nono Adya mengambil contoh Negara Amerika, yang butuh sepuluh tahun lebih untuk bisa memperoleh data komprehensif tersebut.

“Pasti lama. Amerika saja sepuluh tahun, dan itu tidak selesai. Jadi mulai tahun ini kita sosialisasikan proses pendataan individual ini, yang implementasinya mungkin tahun depan dengan uji coba tahun ini. Untuk sementara, yang melakukan adalah beberapa kabupaten/kota, khususnya yang mengikuti workhsop ini,” jelas Nono Adya.

Signifikasni Data dan Informasi

Dalam kesempatan itu, Nono Adya juga memberi motivasi kepada para peserta Workshop Sosialisasi Sistem Pendataan Pendidikan Dasar, yang terdiri dari penanggung jawab KK-Datadik tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta staf LPMP. Menurut Nono Adya, orang yang bekerja di bagian pendataan merupakan orang yang selalu dibutuhkan pimpinan. Lebih jauh, bila orang mampu menguasai data secara komprehensif, karir pekerjaannya akan mudah naik.

“Bila bapak ibu sudah bisa mengolah data menjadi informasi, maka bapak dan ibu sekarang bisa menjadi kasubag data, kemudian jadi kepala dinas dan bupati,” ujar Nono Adya.

Nono Adya tidak sedang bergurau. Karena sudah banyak orang atau lembaga yang menerapkan kalimat bijak bahwa yang menguasai data dan informasi, akan menguasai dunia.

“Kita tahu Freeport, Newmont dan lain-lain. Siapakah mereka? Apakah Indonesia? Tidak. Mereka adalah yang menguasai data dan informasi. Mereka tahu bahwa di dalam tanah kita ini mengandung sesuatu yang sangat berharga, jauh sebelum kita mengetahuinya,” kata Nono Adya.

Karena itu, tambah Nono Adya, tidak ada ruginya bagi seseorang yang bisa menguasai data dan mengolahnya menjadi informasi yang berguna.

Sementara itu, untuk bisa menghasilkan data dan informasi yang berharga, Nono Adya mengutip kalimat bijak dari buku The Art of War buah karya Jenderal Sun Tzu, yaitu kenalilah musuh Anda dan diri Anda, maka kemenangan Anda tidak terancam. Artinya, dengan menguasai seluk-beluk dunia pendidikan, dan juga kemampuan diri, maka data dan informasi pendidikan akan mudah diperoleh.* [Adib Minnanurrachim]

Jumat, 04 Mei 2012

Puisi Karya Kalian: KARTINI




Nama*:Vidhia tiara sopandi
Sekolah:SDN Cileunyi 05
Kelas:6
Email*:vtanabell@gmail.com
Tema Puisi*:Perjuangan
Judul Puisi*:KARTINI
Isi Puisi*:kartini...
kau guru dari kaumu
kau bijak dalam mengajari kaumu
tak pernah berhenti ataupun lelah

kartini...
kau bagai embun penyejuk jiwaku
kau bagai mentari penghangat dunia
kau lahir sebagai ibu
kaulah contoh suri tauladan kaumu

kartini...
kau slalu ada di hati kami
tak hentinya aku mengenangmu
sebagai pahlawan kaumu


Powered by EmailMeForm& SD Negeri Kauman

Selasa, 24 April 2012

Wamendiknas : Tunjangan Guru Jangan Lagi Disunat

Ilustrasi




JAKARTA - Kementerian Pendidikan Nasional meminta tunjangan bagi guru pegawai negeri sipil daerah seluruhnya masuk ke kantong guru. Pejabat di Dinas Pendidikan provinsi dan kabupaten/kota maupun kepala sekolah diperingatkan agar tak mengutip pungutan liar terhadap Tunjangan Profesi Pendidik maupun Dana Tambahan Penghasilan guru daerah.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, setiap kali pencairan tunjangan guru, isu pungli maupun penyunatan selalu mencuat.  Banyak pejabat daerah yang merasa berjasa sehingga dana tersebut cair hingga ke tangan guru, sehingga mengutip sekian persen dari tunjangan tersebut.

"Pungli dan penyunatan terhadap tunjangan guru tidak dibenarkan, oleh siapa pun, seberapa pun besarnya, dengan alasan apa pun," tegas mantan rektor Universitas Andalas ini.

Bila terdapat praktik penyunatan maupun pungutan liar yang merugikan tersebut, Musliar meminta guru melaporkan pada komite pengawas pemda hingga ke Kemendikbud agar ditindaklanjuti. "Kami akan beri sanksi bagi yang melakukan," terangnya.

Musliar mengakui, pencairan tunjangan profesi maupun dana tambahan penghasilan dicairkan melalui mekanisme langsung ke rekening masing-masing guru. Namun, transfer ke rekening masing-masing dilakukan setelah dana berada di dinas pendidikan di kabupaten/kota. Dengan demikian, masih terbuka peluang bagi dinas pendidikan di daerah untuk melakukan pungutan liar maupun penyunatan.

Meski demikian, mantan ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia ini mengakui ada pungutan yang masih dapat ditoleransi oleh Kemendikbud. Yakni, pungutan sukarela yang digunakan untuk pengembangan kompetensi pendidik, misalnya membayar iuran dengan tunjangan yang diterima untuk mengadakan seminar-seminar atau pelatihan peningkatan kemampuan mengajar. "Jika kasusnya seperti ini, tahu sama tahu, suka sama suka dan untuk pengembangan kemampuan tidak masalah," tutur Musliar.

Sesuai dengan tujuan pencairan tunjangan profesi, Musliar berharap tunjangan yang diterima guru tersebut tidak dihabiskan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, namun sebagian disisihkan untuk peningkatan kemampuan mengajar.

Kementerian Keuangan Maret lalu telah mencairkan rapelan trismester pertama dari dua tunjangan guru ke daerah. Tunjangan Profesi Pendidik sebesar satu kali gaji pokok diberikan bagi guru PNS yang telah lolos sertifikasi. Sementara, tunjangan Dana Tambahan Penghasilan senilai Rp 250 ribu per bulan diberikan bagi guru daerah non sertifikasi. (wan/noe)

sumber  http://jpnn.com

Mendiknas Meminta Orang Tua dan Guru Memberi Perhatian Siswa


Jakarta --- Selain keluarga sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk membina karakter siswa. “Tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi sekolah juga diminta untuk memberi sentuhan-sentuhan dialog dari hati ke hati,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh seusai berdialog dengan siswa yang diamankan pihak kepolisian karena terlibat tawuran usai ujian nasional, Jumat (20/04).

Menteri Nuh berprinsip bahwa pada dasarnya siswa-siswa tersebut adalah anak-anak yang baik. Hanya dalam perjalanannya, baik karena lingkungan maupun keinginan untuk ikut-ikutan mereka terjebak dalam tawuran dan tindak kriminal. “Tugas kita adalah meyakinkan mereka bahwa mereka masih bisa berubah ke arah yang lebih baik,” ujar Mendikbud pada media yang ikut menyaksikan dialog Mendikbud dengan siswa dan para orang tua, di ruang pertemuan Polda Metro Jaya, Jumat (20/04).

Mendikbud mengajak masyarakat untuk ikut berperan dalam mengamankan para siswa agar tidak terjebak dalam tindakan kriminal. Dan kepada orang tua, Menteri Nuh berpesan agar memberi perhatian pada putra putrinya. Mendikbud menegaskan, pihaknya akan mendukung kepolisian untuk memberi sanksi tegas pada siswa yang berulang kali melakukan tindak kriminal.

Dan, jika ada sekolah yang siswanya terus menerus melakukan tawuran, Menteri Nuh mengajak dinas pendidikan kabupaten/kota untuk memberi perhatian lebih pada sekolah tersebut. “Kalau kepala sekolahnya tidak mampu menangani siswa-siswi yang nakal itu, mungkin akan kita lakukan penyegaran dalam sekolah tersebut,” tuturnya.

Sebelum berdialog dengan siswa, orang tua, dan kepala sekolah, dari siswa yang terlibat tawuran, Menteri Nuh terlebih dahulu melihat barang bukti berupa senjata tajam yang digunakan para siswa dalam tawuran tersebut. Kebanyakan dari para siswa ini merupakan siswa dari keluarga ekonomi lemah. “Ayah mereka pekerja keras, bahkan ada yang anak yatim,” kata Menteri Nuh. Dari keterangan yang diperoleh dari Wakil Kapolda Metro Jaya Suhardi Alius, para siswa berasal dari Tangerang Selatan, Jakarta Barat, dan Bekasi. (AR)

Sumber : http://www.kemdiknas.go.id

Calon Guru Akan Menjalani Pendidikan Profesi Sejak Semester Awal



Jakarta --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memperbarui sistem perekrutan calon guru mulai tahun ajaran baru 2012. “Calon guru akan menjalani pendidikan profesi sejak semester awal masa perkuliahan,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, seusai menjadi narasumber pada seminar pendidikan, di Hotel Santika, Jakarta Senin (23/04).

Menteri Nuh menjelaskan, , siswa-siswa yang dinyatakan lulus saat mendaftar ke Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), akan disaring kembali dengan mempertimbangkan empat syarat kompetensi calon guru, yaitu profesional, pedagogi, kepribadian, dan sosial. “Begitu lulus, langsung diasramakan,” ucapnya.

Setiap LPTK akan mengasramakan 200-300 orang calon guru, selama empat tahun masa kuliah. Mereka mendapat beasiswa. "Semacam ikatan dinas,” tuturnya. Para calon guru tersebut benar-benar akan disiapkan menjadi guru profesional, dan di akhir masa pendidikannya akan mendapat sertifikat. “Ke depan, guru yang akan direkrut harus punya sertifikat itu,”  ujar Menteri Nuh.

Sistem baru ini merupakan perbaikan terhadap sistem perekrutan, yang selama ini belum mengukur kompetensi calon guru. Dari hasil uji kompetensi awal (UKA) yang dilakukan pada Februari lalu, diketahui bahwa rata-rata nasional kompetensi guru masih rendah yakni 42,25. “Kalau tidak dibongkar sistem ini, kita tidak akan bisa memperbaiki kualitas (sumber daya manusia),” ujar Mendikbud.

Lantaran sistem ini baru dimulai tahun ini, maka guru yang telah dididik baru bisa diterjunkan ke lapangan empat sampai lima tahun mendatang. Guna mengisi kekosongan guru karena banyak guru yang pensiun hingga 2015, Kemdikbud akan mendidik mahasiswa keguruan semester lima sampai delapan. “Mereka akan didramakan. Jadi tidak perlu menunggu 4-5 tahun lagi,” tuturnya. (AR)


Sumber : http://www.kemdiknas.go.id

Keluarga sebagai Pendidikan yang Pertama dan Utama

Keluarga adalah institusi yang sangat berperan dalam rangka melakukan sosialisasi, bahkan internalisasi, nilai-nilai pendidikan. Meskipun jumlah institusi pendidikan formal dari tingkat dasar sampai ke jenjang yang paling tinggi semakin hari semakin banyak, namun peran keluarga dalam transformasi nilai edukatif ini tetap tidak tergantikan.
Pendidikan dalam Keluarga
Karena itulah, peran keluarga dalam hal ini tak ringan sama sekali. Bahkan bisa dikatakan bahwa tanpa keluarga, nilai-nilai pengetahuan yang didapatkan di bangku meja formal tidak akan ada artinya sama sekali. Sekilas memang tampak bahwa peran keluarga tidak begitu ada artinya, namun jika direnungkan lebih dalam, siapa saja akan bisa merasakan betapa berat peran yang disandang keluarga.
Problem yang dialami oleh ‘anak jalanan’ untuk memperoleh pendidikan salah satunya adalah minusnya, bahkan tak adanya, peran keluarga ini. Kalaupun akhirnya mereka bersekolah, mereka hanya mendapatkan pengetahuan formal saja. Sementara kasih sayang, sopan santun, moralitas, cinta dan berbagai nilai afektif lainnya sulit mereka dapatkan. Mereka merasa tidak ada tempat yang baik untuk berlindung dan mengungkapkan seluruh perasaan secara utuh dan bebas.
Umumnya mereka tidak memiliki keluarga yang mengemban peran tersebut. Kalaupun mereka memiliki keluarga, tidak ada situasi yang kondusif untuk saling berbagi perasaan antar anggota dalam sebuah keluarga. Ini merupakan salah satu kesulitan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mencoba memberdayakan ‘anak jalanan’. Mungkin persoalan sulitnya bagaimana dia mendapatkan pendidikan secara formal, tidak sesulit bagaimana dia memperoleh kasih sayang sejati.
Dari paparan itu kita bisa mengerti betapa peran penting keluarga dalam rangka mengemban misi-misi pendidikan tidak bisa diabaikan. Di dalam keluarga tercermin jalinan kasih dan cinta dalam mana ikatan emosional, darah dan kekerabatan sangat mendominasi. Dengan demikian, keluarga merupakan cetak biru (blue print) akan menjadi apa seorang anak kelak. Sebagian orang secara tidak sadar mengatakan bahwa sebenarnya peran keluarga adalah sekunder, alias hanya menjadi pelengkap saja. Sebab pengetahuan formal sudah mereka dapatkan di bangku sekolahan. Logika ini tidak saja keliru secara etis, tapi juga patut dipertanyakan pula pandangan moralnya terhadap keluarga. Yang logis, keluarga justru merupakan institusi pendidikan pertama dan utama, kemudian baru dilengkapi dengan nilai-nilai pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolahan.

Referensi

Mujiran, Paulus. 2002. Pernik-pernik Pendidikan (Manifestasi dalam Keluarga, Sekolah dan Penyadaran Gender). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Pentingnya Keluarga Sebagai Tempat Pendidikan Karakter Anak

Pendidikan anak dewasa ini semakin menjadi perhatian utama dan prioritas para orang tua. Ada beberapa penyebab : Kesadaran akan pentingnya "bersekolah" dan kesadaran akan arti "sekolah", namun tidak jarang ada pula penyebab lain, yakni ingin menyerahkan beban pendidikan / tugas pendidikan ke sekolah (dan para pendidik) - entah karena memahami adanya "value added" di sekolah, atau karena frustrasi, sulit mengarahkan anaknya sendiri di rumah (jadi biar tidak pusing-pusing, anaknya di sekolahkan saja)... Apapun alasan kita para orang tua dalam menyekolahkan anak, seyogyanya kita memahami prinsip bahwa :

Keluarga adalah tempat pertama dan utama pendidikan seorang anak
Keluarga = sekolah plus

Selama ini, kita mencari sekolah plus, untuk bisa mengatasi "kekurangan" yang ada di rumah atau di dalam pola asuh kita terhadap anak. Namun, kita sering lupa, setelah kita memasukkan anak ke sekolah "plus", kita tidak mempelajari dan mengambil "nilai plus"-nya untuk diterapkan di rumah. Akibatnya, di rumah tetap minus dan "plus"-nya tertinggal di sekolah.

Konsekuensi

Ketika musim sekolah telah berjalan, timbul beberapa kesulitan dan masalah - yang tanpa sadar merupakan dampak dari tertinggalnya nilai "plus" di sekolah.
  1. Problem belajar
  2. Problem motivasi
  3. Problem perilaku
  4. Problem emosional
  5. Problem sosial
  6. Problem nilai

1. Problem Belajar 

a. Belajar di sekolah

Pola belajar dengan proses sistematik, termasuk pemberian instruksi yang sistematik, jelas, tegas, sederhana, kongkrit, sequencial dan sesuai dengan kemampuan/kesiapan anak. Pola ini mempermudah penyerapan materi pelajaran dan instruksi, apalagi jika diberikan secara learning by doing and playing. 

b. Belajar di rumah

Pola sistematik di sekolah, seringkali "bubar" ketika di rumah karena toleransi orang tua/pengasuh yang berlebihan terhadap anak (tidak tahan terhadap rengekan dan tantrum anak). Pola short-cut, sering dilakukan orang tua, dengan memangkas proses yang seharusnya dilalui anak, karena orang tua sendiri yang tidak tahan menghadapi proses tersebut, yang di"bumbui" oleh rengekan anak.

2. Problem Motivasi

a. Belajar di sekolah
Pola action-consequence dan sequence yang jelas (sesudah pelajaran ini, akan dilanjutkan dengan kegiatan "mengasikkan" berikutnya - jadi kalau sampai tidak selesai, nanti tidak bisa ikut belajar yang selanjutnya), membuat anak belajar untuk memahami apa akibatnya kalau dia tidak mengerjakan seperti seharusnya.

b. Belajar di rumah

Pola action - consequence seringkali tidak konsisten yang bersumber dari ketidakmampuan orangtua bersikap konsisten pada anak dan toleransi yang terlalu longgar dalam menerapkan pola action-consequences maupun sequences serta kemandirian dalam bertindak (tidak tergantung orang lain - autonomous & independent). Akibatnya, anak jadi mudah frustrasi, kurang punya daya juang (gampang menyerah), malas, mengikuti impuls-nya semata. Rasa ingin tahu, kebutuhan eksplorasi dan keinginan anak untuk mencoba mudah "kalah" oleh keengganan, rasa malas atau pun tuntutan untuk dibantu  orangtua.

3. Problem Perilaku

a. Belajar di sekolah

Pola belajar yang komprehensif, kombinasi dari kegiatan fisik (heavy physical activity) dan non fisik (contoh: thinking, reading, scrabbling, drawing, singing, interacting) membuat energy anak (pada umumnya) terolah  dan tersalur secara produktif & efektif dalam rentang waktu yang relative proporsional.

b. Belajar di rumah
Energi anak yang berlebihan, kurang tersalur secara terarah. Banyak waktu, tapi untuk bermain yang non-produktif; banyak mainan, namun kurang diberi makna/arahan, sehingga mainan yang ada pun tidak bermanfaat secara optimal untuk perkembangan anak, dan hanya sekedar "for fun". Akibatnya, anak mudah bosan, tidak menghargai mainan, tidak kreatif (pemain pasif dan penerima "mainan" pasif), tidak inovatif. Energi yang tidak tersalur, berputar di dalam, menimbulkan keresahan yang seringkali tidak dapat dikendalikan oleh sang anak, hingga terkesan "hyperaktif", agresif, sulit konsentrasi, tidak bisa diam, dsb.

4. Problem Emosional

a. Belajar di sekolah

Beragamnya aktivitas dan teman-teman bermain, membuat anak belajar mengelola emosi-nya sendiri berikut kebutuhan dan keinginan mereka (untuk diperhatikan, dinomersatukan, dilayani, dibantu, dsb. - yang bersifat egosentris/terpusat pada diri sendiri). Kompleksitas situasi di sekolah, menghadapkan anak pada situasi yang sering tak dapat dikendalikannya. Di sekolah, mau tidak mau anak belajar mengelola frustrasi, kesedihan, perasaan marah, ketakutannya, iri hati, kebosanannya, atau pun kekesalannya terhadap sesuatu. Kompleksitas situasi di sekolah, pada dasarnya membantu proses perkembangan kematangan emosi anak.

b. Belajar di rumah

Jika orang tua heran, melihat anaknya disekolah yang lebih "dewasa" tapi ketika di rumah jadi "manja", tukang merengek, mudah menangis dan tantrum, bisa diteliti kembali, bagaimana pola-pola di rumah. Sikap orang tua yang sangat toleran dan tidak konsisten, tidak ber-prinsip (tidak didasari prinsip logika rasional dalam menerapkan aturan) dalam menyikapi tantrum anak atau pun emosi anak, pada akhirnya menyulitkan proses "pencerdasan emosional" anak. Orangtua, seringkali salah memfokuskan perhatian, bukan pada tujuan akhir dari kebijakan, kebiasaan, aktivitas, pembelajaran-nya, namun lebih pada tantrum dan reaksi emosi anak. Contoh: mudah luluh/ kesal/ marah mendengar anak merengek tidak mau makan sendiri sehingga supaya tidak merengek dan mau makan banyak, akhirnya "disuapi" lagi - akhirnya, tujuan pendidikan tidak tercapai, dan anak tidak se-mandiri ketika di sekolah.

5. Problem Sosial

a. Belajar di sekolah

Banyaknya teman di sekolah, membuat anak belajar perilaku sosial, seperti halnya berbagi (sharing), toleransi, bergiliran, empati, menolong teman, dsb. Banyaknya jumlah anak di dalam kelas, membuat sang anak belajar menghadapi kenyataan bahwa bukan dia satu-satunya anak yang membutuhkan bantuan ibu guru atau diperhatikan oleh pak guru. Pola ini, secara positif dapat menumbuhkan kemandirian anak (tidak tergantung dari orang lain, tapi mampu mengusahakannya sendiri). Anak juga belajar, aksi-reaksi, dari sikap dan tindakannya sendiri. Lama kelamaan, anak akan berpikir sebelum bertindak, sehingga dia tidak lagi terlalu impulsif dan "mau menang sendiri" sebab ada akibat sosial yang akan dia alami.

b. Belajar di rumah

Ketika di rumah, anak cenderung menjadi "prince - princess", di mana semua kebutuhannya dilayani dan dia menjadi pusat perhatian.  Akhirnya, jika di sekolah anak terlihat mandiri, tapi di rumah jadi anak super manja. Ketidaksinkronan dan ketidakkonsistenan antara pola di rumah dengan di sekolah, akan menghambat berkembangnya kesadaran internal akan tanggung jawab sosial (social responsibility).

6. Problem Nilai

a. Belajar di sekolah

Di sekolah, anak mendapatkan pelajaran nilai secara langsung dari pengalaman mereka sehari-hari,   misalnya : kejujuran, toleransi, kedisiplinan, kemandirian, ketekunan, ketaatan, kepatuhan, kerja sama, "kerja keras" dan "usaha", tanggung jawab, menghargai teman, mengucapkan terima kasih, dsb. Lingkungan sekolah yang sangat natural (memunculkan instant reaction), memudahkan anak untuk belajar nilai secara konsisten di lingkungan sekolah.

b. Belajar di rumah
Para orangtua maupun pengasuh, seringkali sulit menanamkan nilai-nilai seperti halnya di sekolah, karena banyaknya benturan nilai. Misalnya : jika di sekolah anak harus bisa makan sendiri, di rumah disuapi. Jika di sekolah membereskan mainan (tanggung jawab) sendiri, di rumah dibereskan mbak. Jika di sekolah disiplin dalam hal waktu, di rumah boleh nonton sepuasnya.. Jika disekolah mengerjakan sesuatu hingga selesai, kalau di rumah bisa suka-suka sendiri. Jika di sekolah harus mengambil mainan sendiri, kalau di rumah, tinggal teriak dan menjerit maka akan ada yang mengambilkan. Akhirnya hal ini menghambat pembentukan nilai dan kesadaran moral pada anak. Anak akan "suka-suka" dan terbiasa bersikap "short cut", ambil jalan pintas - yang enak, yang mudah, tidak mau melalui proses-nya, tidak mau menerima konsekuensi-nya.  Pola ini, memupuk mentalitas anak yang lembek, mudah frustrasi, manipulatif dan narsisistik (merasa diri hebat dan layak untuk memperoleh apa yang dia inginkan). Selain itu, anak jadi taat, patuh, "baik" karena takut dimarahi - bukan karena kesadaran (yang akan terbangun melalui belajar nilai dari action-consequnces secara logis).

Apa  yang Harus Dilakukan?
Orang tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa hal yang utama, yang membantu anak mengembangkan hal-hal dasar dalam kepribadiannya. Sebagaimana orang tua memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan harapan mereka, begitu juga orang tua seyogyanya mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif dan positif dari sekolah. Paling tidak, di antara keduanya, saling mengisi - dan bukan saling meniadakan. Untuk itu lah, komunikasi orang tua dengan anak, dan komunikasi antara orang tua dengan pihak sekolah, menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Kita tidak bisa bersikap "tahu beres" baik terhadap anak maupunn pihak sekolah. Karena, ketika terjadi ketidakberesan, kita tidak bisa semata-mata menunjuk pihak sekolah sebagai "biang keladi" dari persoalan yang dihadapi anak. Bisa saja persoalan dimulai/ terjadi di sekolah, namun kita harus melihatnya secara bijaksana, karena reaksi seorang anak terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilaluinya dan pola asuh yang paling mendominasi bentukan sikap dan kepribadiannya. Jadi, keluarga, adalah tempat utama pendidikan dan pengembangan seorang anak. Sekolah, pada dasarnya mengarahkan, memberikan bimbingan dan kerangka - bagi anak untuk belajar, bertumbuh dan berkembang. Sementara keluarga, justru menjadi center of education yang utama, pertama dan mendasar.***

Artikel ini ditulis oleh : Baskoro Aji, ST

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Terima Kasih Atas Kunjungannya | Bloggerized by - Premium Blogger Themes | ,
Sekolah Dasar Negeri Kauman -Alamat : Jl. dr. Cipto Mangunkusumo Jepara - Phone (0291)597901 - Kode Pos : 59417 - E-mail : sdn_kauman@yahoo.com