Kritik, Saran, dan Komentar              

Selasa, 24 April 2012

Wamendiknas : Tunjangan Guru Jangan Lagi Disunat

Ilustrasi




JAKARTA - Kementerian Pendidikan Nasional meminta tunjangan bagi guru pegawai negeri sipil daerah seluruhnya masuk ke kantong guru. Pejabat di Dinas Pendidikan provinsi dan kabupaten/kota maupun kepala sekolah diperingatkan agar tak mengutip pungutan liar terhadap Tunjangan Profesi Pendidik maupun Dana Tambahan Penghasilan guru daerah.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, setiap kali pencairan tunjangan guru, isu pungli maupun penyunatan selalu mencuat.  Banyak pejabat daerah yang merasa berjasa sehingga dana tersebut cair hingga ke tangan guru, sehingga mengutip sekian persen dari tunjangan tersebut.

"Pungli dan penyunatan terhadap tunjangan guru tidak dibenarkan, oleh siapa pun, seberapa pun besarnya, dengan alasan apa pun," tegas mantan rektor Universitas Andalas ini.

Bila terdapat praktik penyunatan maupun pungutan liar yang merugikan tersebut, Musliar meminta guru melaporkan pada komite pengawas pemda hingga ke Kemendikbud agar ditindaklanjuti. "Kami akan beri sanksi bagi yang melakukan," terangnya.

Musliar mengakui, pencairan tunjangan profesi maupun dana tambahan penghasilan dicairkan melalui mekanisme langsung ke rekening masing-masing guru. Namun, transfer ke rekening masing-masing dilakukan setelah dana berada di dinas pendidikan di kabupaten/kota. Dengan demikian, masih terbuka peluang bagi dinas pendidikan di daerah untuk melakukan pungutan liar maupun penyunatan.

Meski demikian, mantan ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia ini mengakui ada pungutan yang masih dapat ditoleransi oleh Kemendikbud. Yakni, pungutan sukarela yang digunakan untuk pengembangan kompetensi pendidik, misalnya membayar iuran dengan tunjangan yang diterima untuk mengadakan seminar-seminar atau pelatihan peningkatan kemampuan mengajar. "Jika kasusnya seperti ini, tahu sama tahu, suka sama suka dan untuk pengembangan kemampuan tidak masalah," tutur Musliar.

Sesuai dengan tujuan pencairan tunjangan profesi, Musliar berharap tunjangan yang diterima guru tersebut tidak dihabiskan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, namun sebagian disisihkan untuk peningkatan kemampuan mengajar.

Kementerian Keuangan Maret lalu telah mencairkan rapelan trismester pertama dari dua tunjangan guru ke daerah. Tunjangan Profesi Pendidik sebesar satu kali gaji pokok diberikan bagi guru PNS yang telah lolos sertifikasi. Sementara, tunjangan Dana Tambahan Penghasilan senilai Rp 250 ribu per bulan diberikan bagi guru daerah non sertifikasi. (wan/noe)

sumber  http://jpnn.com

Mendiknas Meminta Orang Tua dan Guru Memberi Perhatian Siswa


Jakarta --- Selain keluarga sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk membina karakter siswa. “Tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi sekolah juga diminta untuk memberi sentuhan-sentuhan dialog dari hati ke hati,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh seusai berdialog dengan siswa yang diamankan pihak kepolisian karena terlibat tawuran usai ujian nasional, Jumat (20/04).

Menteri Nuh berprinsip bahwa pada dasarnya siswa-siswa tersebut adalah anak-anak yang baik. Hanya dalam perjalanannya, baik karena lingkungan maupun keinginan untuk ikut-ikutan mereka terjebak dalam tawuran dan tindak kriminal. “Tugas kita adalah meyakinkan mereka bahwa mereka masih bisa berubah ke arah yang lebih baik,” ujar Mendikbud pada media yang ikut menyaksikan dialog Mendikbud dengan siswa dan para orang tua, di ruang pertemuan Polda Metro Jaya, Jumat (20/04).

Mendikbud mengajak masyarakat untuk ikut berperan dalam mengamankan para siswa agar tidak terjebak dalam tindakan kriminal. Dan kepada orang tua, Menteri Nuh berpesan agar memberi perhatian pada putra putrinya. Mendikbud menegaskan, pihaknya akan mendukung kepolisian untuk memberi sanksi tegas pada siswa yang berulang kali melakukan tindak kriminal.

Dan, jika ada sekolah yang siswanya terus menerus melakukan tawuran, Menteri Nuh mengajak dinas pendidikan kabupaten/kota untuk memberi perhatian lebih pada sekolah tersebut. “Kalau kepala sekolahnya tidak mampu menangani siswa-siswi yang nakal itu, mungkin akan kita lakukan penyegaran dalam sekolah tersebut,” tuturnya.

Sebelum berdialog dengan siswa, orang tua, dan kepala sekolah, dari siswa yang terlibat tawuran, Menteri Nuh terlebih dahulu melihat barang bukti berupa senjata tajam yang digunakan para siswa dalam tawuran tersebut. Kebanyakan dari para siswa ini merupakan siswa dari keluarga ekonomi lemah. “Ayah mereka pekerja keras, bahkan ada yang anak yatim,” kata Menteri Nuh. Dari keterangan yang diperoleh dari Wakil Kapolda Metro Jaya Suhardi Alius, para siswa berasal dari Tangerang Selatan, Jakarta Barat, dan Bekasi. (AR)

Sumber : http://www.kemdiknas.go.id

Calon Guru Akan Menjalani Pendidikan Profesi Sejak Semester Awal



Jakarta --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memperbarui sistem perekrutan calon guru mulai tahun ajaran baru 2012. “Calon guru akan menjalani pendidikan profesi sejak semester awal masa perkuliahan,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, seusai menjadi narasumber pada seminar pendidikan, di Hotel Santika, Jakarta Senin (23/04).

Menteri Nuh menjelaskan, , siswa-siswa yang dinyatakan lulus saat mendaftar ke Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), akan disaring kembali dengan mempertimbangkan empat syarat kompetensi calon guru, yaitu profesional, pedagogi, kepribadian, dan sosial. “Begitu lulus, langsung diasramakan,” ucapnya.

Setiap LPTK akan mengasramakan 200-300 orang calon guru, selama empat tahun masa kuliah. Mereka mendapat beasiswa. "Semacam ikatan dinas,” tuturnya. Para calon guru tersebut benar-benar akan disiapkan menjadi guru profesional, dan di akhir masa pendidikannya akan mendapat sertifikat. “Ke depan, guru yang akan direkrut harus punya sertifikat itu,”  ujar Menteri Nuh.

Sistem baru ini merupakan perbaikan terhadap sistem perekrutan, yang selama ini belum mengukur kompetensi calon guru. Dari hasil uji kompetensi awal (UKA) yang dilakukan pada Februari lalu, diketahui bahwa rata-rata nasional kompetensi guru masih rendah yakni 42,25. “Kalau tidak dibongkar sistem ini, kita tidak akan bisa memperbaiki kualitas (sumber daya manusia),” ujar Mendikbud.

Lantaran sistem ini baru dimulai tahun ini, maka guru yang telah dididik baru bisa diterjunkan ke lapangan empat sampai lima tahun mendatang. Guna mengisi kekosongan guru karena banyak guru yang pensiun hingga 2015, Kemdikbud akan mendidik mahasiswa keguruan semester lima sampai delapan. “Mereka akan didramakan. Jadi tidak perlu menunggu 4-5 tahun lagi,” tuturnya. (AR)


Sumber : http://www.kemdiknas.go.id

Keluarga sebagai Pendidikan yang Pertama dan Utama

Keluarga adalah institusi yang sangat berperan dalam rangka melakukan sosialisasi, bahkan internalisasi, nilai-nilai pendidikan. Meskipun jumlah institusi pendidikan formal dari tingkat dasar sampai ke jenjang yang paling tinggi semakin hari semakin banyak, namun peran keluarga dalam transformasi nilai edukatif ini tetap tidak tergantikan.
Pendidikan dalam Keluarga
Karena itulah, peran keluarga dalam hal ini tak ringan sama sekali. Bahkan bisa dikatakan bahwa tanpa keluarga, nilai-nilai pengetahuan yang didapatkan di bangku meja formal tidak akan ada artinya sama sekali. Sekilas memang tampak bahwa peran keluarga tidak begitu ada artinya, namun jika direnungkan lebih dalam, siapa saja akan bisa merasakan betapa berat peran yang disandang keluarga.
Problem yang dialami oleh ‘anak jalanan’ untuk memperoleh pendidikan salah satunya adalah minusnya, bahkan tak adanya, peran keluarga ini. Kalaupun akhirnya mereka bersekolah, mereka hanya mendapatkan pengetahuan formal saja. Sementara kasih sayang, sopan santun, moralitas, cinta dan berbagai nilai afektif lainnya sulit mereka dapatkan. Mereka merasa tidak ada tempat yang baik untuk berlindung dan mengungkapkan seluruh perasaan secara utuh dan bebas.
Umumnya mereka tidak memiliki keluarga yang mengemban peran tersebut. Kalaupun mereka memiliki keluarga, tidak ada situasi yang kondusif untuk saling berbagi perasaan antar anggota dalam sebuah keluarga. Ini merupakan salah satu kesulitan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mencoba memberdayakan ‘anak jalanan’. Mungkin persoalan sulitnya bagaimana dia mendapatkan pendidikan secara formal, tidak sesulit bagaimana dia memperoleh kasih sayang sejati.
Dari paparan itu kita bisa mengerti betapa peran penting keluarga dalam rangka mengemban misi-misi pendidikan tidak bisa diabaikan. Di dalam keluarga tercermin jalinan kasih dan cinta dalam mana ikatan emosional, darah dan kekerabatan sangat mendominasi. Dengan demikian, keluarga merupakan cetak biru (blue print) akan menjadi apa seorang anak kelak. Sebagian orang secara tidak sadar mengatakan bahwa sebenarnya peran keluarga adalah sekunder, alias hanya menjadi pelengkap saja. Sebab pengetahuan formal sudah mereka dapatkan di bangku sekolahan. Logika ini tidak saja keliru secara etis, tapi juga patut dipertanyakan pula pandangan moralnya terhadap keluarga. Yang logis, keluarga justru merupakan institusi pendidikan pertama dan utama, kemudian baru dilengkapi dengan nilai-nilai pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolahan.

Referensi

Mujiran, Paulus. 2002. Pernik-pernik Pendidikan (Manifestasi dalam Keluarga, Sekolah dan Penyadaran Gender). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Pentingnya Keluarga Sebagai Tempat Pendidikan Karakter Anak

Pendidikan anak dewasa ini semakin menjadi perhatian utama dan prioritas para orang tua. Ada beberapa penyebab : Kesadaran akan pentingnya "bersekolah" dan kesadaran akan arti "sekolah", namun tidak jarang ada pula penyebab lain, yakni ingin menyerahkan beban pendidikan / tugas pendidikan ke sekolah (dan para pendidik) - entah karena memahami adanya "value added" di sekolah, atau karena frustrasi, sulit mengarahkan anaknya sendiri di rumah (jadi biar tidak pusing-pusing, anaknya di sekolahkan saja)... Apapun alasan kita para orang tua dalam menyekolahkan anak, seyogyanya kita memahami prinsip bahwa :

Keluarga adalah tempat pertama dan utama pendidikan seorang anak
Keluarga = sekolah plus

Selama ini, kita mencari sekolah plus, untuk bisa mengatasi "kekurangan" yang ada di rumah atau di dalam pola asuh kita terhadap anak. Namun, kita sering lupa, setelah kita memasukkan anak ke sekolah "plus", kita tidak mempelajari dan mengambil "nilai plus"-nya untuk diterapkan di rumah. Akibatnya, di rumah tetap minus dan "plus"-nya tertinggal di sekolah.

Konsekuensi

Ketika musim sekolah telah berjalan, timbul beberapa kesulitan dan masalah - yang tanpa sadar merupakan dampak dari tertinggalnya nilai "plus" di sekolah.
  1. Problem belajar
  2. Problem motivasi
  3. Problem perilaku
  4. Problem emosional
  5. Problem sosial
  6. Problem nilai

1. Problem Belajar 

a. Belajar di sekolah

Pola belajar dengan proses sistematik, termasuk pemberian instruksi yang sistematik, jelas, tegas, sederhana, kongkrit, sequencial dan sesuai dengan kemampuan/kesiapan anak. Pola ini mempermudah penyerapan materi pelajaran dan instruksi, apalagi jika diberikan secara learning by doing and playing. 

b. Belajar di rumah

Pola sistematik di sekolah, seringkali "bubar" ketika di rumah karena toleransi orang tua/pengasuh yang berlebihan terhadap anak (tidak tahan terhadap rengekan dan tantrum anak). Pola short-cut, sering dilakukan orang tua, dengan memangkas proses yang seharusnya dilalui anak, karena orang tua sendiri yang tidak tahan menghadapi proses tersebut, yang di"bumbui" oleh rengekan anak.

2. Problem Motivasi

a. Belajar di sekolah
Pola action-consequence dan sequence yang jelas (sesudah pelajaran ini, akan dilanjutkan dengan kegiatan "mengasikkan" berikutnya - jadi kalau sampai tidak selesai, nanti tidak bisa ikut belajar yang selanjutnya), membuat anak belajar untuk memahami apa akibatnya kalau dia tidak mengerjakan seperti seharusnya.

b. Belajar di rumah

Pola action - consequence seringkali tidak konsisten yang bersumber dari ketidakmampuan orangtua bersikap konsisten pada anak dan toleransi yang terlalu longgar dalam menerapkan pola action-consequences maupun sequences serta kemandirian dalam bertindak (tidak tergantung orang lain - autonomous & independent). Akibatnya, anak jadi mudah frustrasi, kurang punya daya juang (gampang menyerah), malas, mengikuti impuls-nya semata. Rasa ingin tahu, kebutuhan eksplorasi dan keinginan anak untuk mencoba mudah "kalah" oleh keengganan, rasa malas atau pun tuntutan untuk dibantu  orangtua.

3. Problem Perilaku

a. Belajar di sekolah

Pola belajar yang komprehensif, kombinasi dari kegiatan fisik (heavy physical activity) dan non fisik (contoh: thinking, reading, scrabbling, drawing, singing, interacting) membuat energy anak (pada umumnya) terolah  dan tersalur secara produktif & efektif dalam rentang waktu yang relative proporsional.

b. Belajar di rumah
Energi anak yang berlebihan, kurang tersalur secara terarah. Banyak waktu, tapi untuk bermain yang non-produktif; banyak mainan, namun kurang diberi makna/arahan, sehingga mainan yang ada pun tidak bermanfaat secara optimal untuk perkembangan anak, dan hanya sekedar "for fun". Akibatnya, anak mudah bosan, tidak menghargai mainan, tidak kreatif (pemain pasif dan penerima "mainan" pasif), tidak inovatif. Energi yang tidak tersalur, berputar di dalam, menimbulkan keresahan yang seringkali tidak dapat dikendalikan oleh sang anak, hingga terkesan "hyperaktif", agresif, sulit konsentrasi, tidak bisa diam, dsb.

4. Problem Emosional

a. Belajar di sekolah

Beragamnya aktivitas dan teman-teman bermain, membuat anak belajar mengelola emosi-nya sendiri berikut kebutuhan dan keinginan mereka (untuk diperhatikan, dinomersatukan, dilayani, dibantu, dsb. - yang bersifat egosentris/terpusat pada diri sendiri). Kompleksitas situasi di sekolah, menghadapkan anak pada situasi yang sering tak dapat dikendalikannya. Di sekolah, mau tidak mau anak belajar mengelola frustrasi, kesedihan, perasaan marah, ketakutannya, iri hati, kebosanannya, atau pun kekesalannya terhadap sesuatu. Kompleksitas situasi di sekolah, pada dasarnya membantu proses perkembangan kematangan emosi anak.

b. Belajar di rumah

Jika orang tua heran, melihat anaknya disekolah yang lebih "dewasa" tapi ketika di rumah jadi "manja", tukang merengek, mudah menangis dan tantrum, bisa diteliti kembali, bagaimana pola-pola di rumah. Sikap orang tua yang sangat toleran dan tidak konsisten, tidak ber-prinsip (tidak didasari prinsip logika rasional dalam menerapkan aturan) dalam menyikapi tantrum anak atau pun emosi anak, pada akhirnya menyulitkan proses "pencerdasan emosional" anak. Orangtua, seringkali salah memfokuskan perhatian, bukan pada tujuan akhir dari kebijakan, kebiasaan, aktivitas, pembelajaran-nya, namun lebih pada tantrum dan reaksi emosi anak. Contoh: mudah luluh/ kesal/ marah mendengar anak merengek tidak mau makan sendiri sehingga supaya tidak merengek dan mau makan banyak, akhirnya "disuapi" lagi - akhirnya, tujuan pendidikan tidak tercapai, dan anak tidak se-mandiri ketika di sekolah.

5. Problem Sosial

a. Belajar di sekolah

Banyaknya teman di sekolah, membuat anak belajar perilaku sosial, seperti halnya berbagi (sharing), toleransi, bergiliran, empati, menolong teman, dsb. Banyaknya jumlah anak di dalam kelas, membuat sang anak belajar menghadapi kenyataan bahwa bukan dia satu-satunya anak yang membutuhkan bantuan ibu guru atau diperhatikan oleh pak guru. Pola ini, secara positif dapat menumbuhkan kemandirian anak (tidak tergantung dari orang lain, tapi mampu mengusahakannya sendiri). Anak juga belajar, aksi-reaksi, dari sikap dan tindakannya sendiri. Lama kelamaan, anak akan berpikir sebelum bertindak, sehingga dia tidak lagi terlalu impulsif dan "mau menang sendiri" sebab ada akibat sosial yang akan dia alami.

b. Belajar di rumah

Ketika di rumah, anak cenderung menjadi "prince - princess", di mana semua kebutuhannya dilayani dan dia menjadi pusat perhatian.  Akhirnya, jika di sekolah anak terlihat mandiri, tapi di rumah jadi anak super manja. Ketidaksinkronan dan ketidakkonsistenan antara pola di rumah dengan di sekolah, akan menghambat berkembangnya kesadaran internal akan tanggung jawab sosial (social responsibility).

6. Problem Nilai

a. Belajar di sekolah

Di sekolah, anak mendapatkan pelajaran nilai secara langsung dari pengalaman mereka sehari-hari,   misalnya : kejujuran, toleransi, kedisiplinan, kemandirian, ketekunan, ketaatan, kepatuhan, kerja sama, "kerja keras" dan "usaha", tanggung jawab, menghargai teman, mengucapkan terima kasih, dsb. Lingkungan sekolah yang sangat natural (memunculkan instant reaction), memudahkan anak untuk belajar nilai secara konsisten di lingkungan sekolah.

b. Belajar di rumah
Para orangtua maupun pengasuh, seringkali sulit menanamkan nilai-nilai seperti halnya di sekolah, karena banyaknya benturan nilai. Misalnya : jika di sekolah anak harus bisa makan sendiri, di rumah disuapi. Jika di sekolah membereskan mainan (tanggung jawab) sendiri, di rumah dibereskan mbak. Jika di sekolah disiplin dalam hal waktu, di rumah boleh nonton sepuasnya.. Jika disekolah mengerjakan sesuatu hingga selesai, kalau di rumah bisa suka-suka sendiri. Jika di sekolah harus mengambil mainan sendiri, kalau di rumah, tinggal teriak dan menjerit maka akan ada yang mengambilkan. Akhirnya hal ini menghambat pembentukan nilai dan kesadaran moral pada anak. Anak akan "suka-suka" dan terbiasa bersikap "short cut", ambil jalan pintas - yang enak, yang mudah, tidak mau melalui proses-nya, tidak mau menerima konsekuensi-nya.  Pola ini, memupuk mentalitas anak yang lembek, mudah frustrasi, manipulatif dan narsisistik (merasa diri hebat dan layak untuk memperoleh apa yang dia inginkan). Selain itu, anak jadi taat, patuh, "baik" karena takut dimarahi - bukan karena kesadaran (yang akan terbangun melalui belajar nilai dari action-consequnces secara logis).

Apa  yang Harus Dilakukan?
Orang tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa hal yang utama, yang membantu anak mengembangkan hal-hal dasar dalam kepribadiannya. Sebagaimana orang tua memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan harapan mereka, begitu juga orang tua seyogyanya mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif dan positif dari sekolah. Paling tidak, di antara keduanya, saling mengisi - dan bukan saling meniadakan. Untuk itu lah, komunikasi orang tua dengan anak, dan komunikasi antara orang tua dengan pihak sekolah, menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Kita tidak bisa bersikap "tahu beres" baik terhadap anak maupunn pihak sekolah. Karena, ketika terjadi ketidakberesan, kita tidak bisa semata-mata menunjuk pihak sekolah sebagai "biang keladi" dari persoalan yang dihadapi anak. Bisa saja persoalan dimulai/ terjadi di sekolah, namun kita harus melihatnya secara bijaksana, karena reaksi seorang anak terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilaluinya dan pola asuh yang paling mendominasi bentukan sikap dan kepribadiannya. Jadi, keluarga, adalah tempat utama pendidikan dan pengembangan seorang anak. Sekolah, pada dasarnya mengarahkan, memberikan bimbingan dan kerangka - bagi anak untuk belajar, bertumbuh dan berkembang. Sementara keluarga, justru menjadi center of education yang utama, pertama dan mendasar.***

Artikel ini ditulis oleh : Baskoro Aji, ST

Minggu, 22 April 2012

Kegiatan Sekolah dalam Memperingati Hari Kartini

JEPARA-Bulan April merupakan bulan yang penting bagi masyarakat Jepara. Hal ini karena pada bulan April inilah dulu Sejarah berdirinya kota Jepara atau hari jadi Jepara yang dperingati setiap tanggal 10 April. Selain itu juga bulan dimana pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi wanita RA. Kartini dilahirkan yang diperingati setiap tanggal 21 April.

Pada tanggal 21 April kemaring sekolah melaksanakan kegiatan Upacara Peringatan Hari Kartini. Siswa Putri memakai pakaian kebaya sedangkan siswa putra memakai pakaian pramuka. Upacara dimulai pukul 07.30 di halaman sekolah dan berlangsung dengan lancar. 

Sesudah upacara selesai dilanjutkan dengan berbagai kegiatan lomba diantaranya lomba keluwesan semua kelas , lomba menyanyi lagu IBU KITA KARTINI , lomba mewarnai untuk kelas 1 sampai 3, dan lomba menggambar untuk kelas 4 sampai 6.



SELAMAT HARI KARTINI

Sabtu, 14 April 2012

18 Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

NILAI
DESKRIPSI
1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari  sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/ Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15.  Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung-jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Jumat, 06 April 2012

Puisi Karya Kalian: Putus cinta

Nama*:Dewi nahak
Sekolah:SDN bangilan 01
Kelas:VI a
Email*:Dewinahak@yahoo.co.id
Tema Puisi*:Cinta
Judul Puisi*:Putus cinta
Isi Puisi*:Putus cinta
Kau yang telah memilih q sebagai kekasih! tpi kau yg berhianat!



Powered by EmailMeForm

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Terima Kasih Atas Kunjungannya | Bloggerized by - Premium Blogger Themes | ,
Sekolah Dasar Negeri Kauman -Alamat : Jl. dr. Cipto Mangunkusumo Jepara - Phone (0291)597901 - Kode Pos : 59417 - E-mail : sdn_kauman@yahoo.com